Langsung ke konten utama

Postingan

Pasca Puasa : Dari Orientasi Ilahiyyah Menuju Insaniyyah

                        Ini anjuran untuk diri saya pribadi bahwa, jangan menjadi hamba Ramadhan, yang stuck dan berhenti beribadah ketika bulan puasa telah berlalu, tetapi jadilah hamba Allah Swt, yang tetap istiqomah mendekat dan memperbarui kemanusiaan setiap waktu dalam rangka menjadi hamba yang rahmatan lil ‘alamin . Karena ngaji, sedekah dan ibadah tidak harus pergi sebab bulan Ramadhan pergi, dan Rahmat-Nya akan tetap tersebar dimana-mana.                 Ibaratnya begini, apa jadinya tatkala seorang ibu melahirkan anaknya dan kemudian ia tidak berkenan merawat si bayi, tidak menyediakan ASI atau susu formula, atau bahkan malah menelantarkannya?! Tentu tidak akan. Lalu kenapa seorang ibu mau dan mesti merawat anaknya? Jawabannya, selain memang sudah menjadi naluri kemanusiaan seorang Ibu, semua itu adalah atas kehendak dan rahmat Al...
Postingan terbaru

Islam, Politik dan Libertarianisme

          Azas kebebasan sebagai sebuah prinsip telah menjadi perbincangan yang amat sangat rumit dan luas, apalagi ketika dikaitkan dengan isu agama, kekuasaan dan ideologi lainnya. Mengingat setiap pikiran memiliki gagasan sendiri-sendiri ( likulli ro’sin ro’yun ) mengenai apa yang dimaksud kebebasan, dan juga kecenderungan sikap (akal) dan rasa (naluri) bagi seseorang akan turut serta terlibat dalam pengambilan keputusan terhadap kecenderungan ideologis semacam itu. Manusia begitu kompleks, heterogen dan cenderung emosional, sehingga mereka membutuhkan kebebasan untuk lebih luas mengekspresikan diri dan kemauannya. Entah itu sebagai sikap ingin memanjakan dirinya atau memang itu (kebebasan) dianggap sebagai unsur pembentuk kebaikan-kebaikan yang lebih universal, baik dalam komunitas maupun negara.           Islam sendiri memandang kebebasan ( hurriyyah/liberty ) sebagai sebuah kemerdekaan ( ...

Nalar Hijau Keislaman

Dalam kacamata universal implementasi ke-berislam-an sangatlah heterogen, baik yang terkait dengan pemikiran maupun sikap. Ada yang sifatnya substansial dan urgen ( wajib ) ada juga yang sifatnya umum dan bisa ditolerir ( sunnah ) . Salah satu contohnya adalah larangan dalam Al-Quran yang menyatakan agar manusia mengindari kerusakan ( wala tufsidu fil ardhi ba’da islahiha ). Sebagaimana konsep hukum yang ada, maka setelah adanya larangan biasanya hal tersebut tidak patut dilakukan. Dalam konteks ini berarti dilarang melakukan kerusakan dan sebaliknya harus melakukan perbaikan. Siapa yang melanggarnya ia akan dikenai sanksi (dosa) dan pertanggung jawban. Adapun larangan diatas, sebenarnya bermaksud agar manusia menjaga ekosistem alam dan habitatnya, karena memang dampaknya yang   sangat luar biasa, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik dampak individu maupun dampak kolektif. Itulah mengapa dalam kaidah fiqih dinyatakan menghindari mafsadat lebih didahulukan daripada mend...

Intelektualisme Ibrahim a.s. Muda

  Wal tandzur nafsun maa qoddamat lighod (in). begitu bunyi petikan ayat Al-Quran yang terambil dari Q.S. 59:18. Kata ini kurang lebih memiliki makna, “perhatikan sejarahmu untuk masa depanmu”. Masa depan disini (lighod) menurut apa yang dikemukakan oleh Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin asy-Syuyuthi dalam tafsir Jalalain adalah hari kiamat, begitu pula Imam Al-Qurtubi. Bahkan ada juga yang memaknai kata “lighod” ini sesuai dengan aslinya, yakni besok. Ini menandakan bahwa penting sekali bagi kami dan kamu untuk senantiasa introspeksi diri guna menapakkan kaki untuk berjalan lurus kedepan (kalo belok jangan lupa belok) dan mawas diri serta menjadikan kejadian di waktu yang kemarin-kemarin adalah sebagai pelajaran yang sangat berharga. Ibrahim a.s. dalam realitas sejarah telah disematkan pada dirinya sebagai bapak kaum muslimin (father of monotheism). Kiprahnya yang sangat monumental dalam mempertahankan keyakinan tauhid menjadikannya layak ditiru oleh kaum musli...

Narasi Islami Menyemai Kesadaran Ekologi

    “Manusia adalah bagian dari alam dan alam adalah bagian dari manusia. keduanya adalah bagian (kehendak) dari Tuhan yang Maha Perkasa”        Allah SWT dalam penyampaian risalah-Nya pertama kali menggunakan redaksi Iqro’ . Makna ini sederhananya bisa dipahami sebagai perintah untuk  membaca, menelaah, dan atau menghimpun. Adapun asal kata iqro itu sudah maklum dan biarlah itu menjadi fokus para ahli sastra, atau nanti bisa ditelaah lebih lanjut.      Filosofi membaca diawal Kalam itu memberi isyarat Ilahiah tersendiri bahwasannya manusia dengan superioritas akalnya harus senantiasa memperhatikan fenomena alam yang ada di sekitarnya, karena pada dasarnya realisasi perintah untuk membaca pada ayat tersebut bukan melulu mewajibkan adanya teks bacaan sebagai objek tertulis atau menganggapnya hanya sebatas ucapan belaka. Lebih dari itu eksistensi membaca disitu menurut apa yang dikemukakan Prof. KH. Nasaruddin Umar ...

Cahaya Rasulullah Muhammad

  Tertulis dalam sebuah hikayat bahwa pada hari itu matahari tersenyum cerah, bunga-bunga bermekaran dan pohon-pohon mengandung buahnya. Bumi teguh dengan keindahannya dan awan saling berpadu menatap keagungannya. Burung-burung bergatian menyambut kicau satu dengan yang lain dan hayawan saling berkhabar menyambut kedatangan satu ciptaan yang sudah di rencanakan. Hari itu sebagai pertanda terputus sudah tali kejahiliyahan, kegelapan berganti dengan cahaya, kekosongan berganti dengan kehadiran, kelalaian berganti dengan keselamatan. Hari itu mulai tumbuh benih-benih keberkahan tiap-tiap sudut kota. Ya Rasulallah,,, Ku tambatkan hatiku padamu dengan erat Melebihi apa yang kumiliki, saudara, keluarga dan sahabat karib Kupelajari dirimu, aqwalmu, dan hal Ikhwal terkait kemuliaanmu (Fiqih Sirah) Engkau adalah panduan menuju Sirotol mustaqiem (Islam, Qur'an dan Sunnah) Muhammad begitu panggilnya, lahir dalam keluarga yang terhormat lagi dihormati. Dari rahim seorang Ibu dan Ayah...

Meniti Jalan Kemuliaan Imam An-Nawawi

Abad ke-20 Dimana sudah jamak diketahui, perkembangan tekhnologi begitu masif. Tak hanya itu inovasi juga merambah dibidang kedokteran, ekonomi dan ekologi. Berbagai instrumen dibuat untuk memenuhi hak hidup dan hak bahagia suatu masyarakat modern. Kemajuan demi kemajuan merangsang para ilmuan untuk terus-menerus bereksperimen untuk orientasi masa depan dan jangkauan yang lebih luas bagi umat manusia. Yuval Noah Harari dalam Homo Deus : Masa Depan Umat Manusia menerangkan bahwa beberapa saintis modern bahkan tengah mengembangkan seperangkat riset untuk melawan kematian dan menentang mortalitas manusia. Mereka melihat semakin berkembangnya dunia saintifik, terutama dalam bidang kesehatan dan semakin melemahnya tubuh manusia dari masa ke masa menyebabkan imortalitas atau melawan kematian menjadi salah satu eksperimen ilmiahnya untuk beberapa dekade ke depan paling tidak sebelum gagal. Berprinsip kepada keyakinan agama tentu hal ini adalah ketakmungkinan yang dipaksakan. Entah apa mo...