Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2021

Intelektualisme Ibrahim a.s. Muda

  Wal tandzur nafsun maa qoddamat lighod (in). begitu bunyi petikan ayat Al-Quran yang terambil dari Q.S. 59:18. Kata ini kurang lebih memiliki makna, “perhatikan sejarahmu untuk masa depanmu”. Masa depan disini (lighod) menurut apa yang dikemukakan oleh Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin asy-Syuyuthi dalam tafsir Jalalain adalah hari kiamat, begitu pula Imam Al-Qurtubi. Bahkan ada juga yang memaknai kata “lighod” ini sesuai dengan aslinya, yakni besok. Ini menandakan bahwa penting sekali bagi kami dan kamu untuk senantiasa introspeksi diri guna menapakkan kaki untuk berjalan lurus kedepan (kalo belok jangan lupa belok) dan mawas diri serta menjadikan kejadian di waktu yang kemarin-kemarin adalah sebagai pelajaran yang sangat berharga. Ibrahim a.s. dalam realitas sejarah telah disematkan pada dirinya sebagai bapak kaum muslimin (father of monotheism). Kiprahnya yang sangat monumental dalam mempertahankan keyakinan tauhid menjadikannya layak ditiru oleh kaum musli...

Narasi Islami Menyemai Kesadaran Ekologi

    “Manusia adalah bagian dari alam dan alam adalah bagian dari manusia. keduanya adalah bagian (kehendak) dari Tuhan yang Maha Perkasa”        Allah SWT dalam penyampaian risalah-Nya pertama kali menggunakan redaksi Iqro’ . Makna ini sederhananya bisa dipahami sebagai perintah untuk  membaca, menelaah, dan atau menghimpun. Adapun asal kata iqro itu sudah maklum dan biarlah itu menjadi fokus para ahli sastra, atau nanti bisa ditelaah lebih lanjut.      Filosofi membaca diawal Kalam itu memberi isyarat Ilahiah tersendiri bahwasannya manusia dengan superioritas akalnya harus senantiasa memperhatikan fenomena alam yang ada di sekitarnya, karena pada dasarnya realisasi perintah untuk membaca pada ayat tersebut bukan melulu mewajibkan adanya teks bacaan sebagai objek tertulis atau menganggapnya hanya sebatas ucapan belaka. Lebih dari itu eksistensi membaca disitu menurut apa yang dikemukakan Prof. KH. Nasaruddin Umar ...