Ini
anjuran untuk diri saya pribadi bahwa, jangan menjadi hamba Ramadhan, yang stuck
dan berhenti beribadah ketika bulan puasa telah berlalu, tetapi jadilah hamba
Allah Swt, yang tetap istiqomah mendekat dan memperbarui kemanusiaan setiap
waktu dalam rangka menjadi hamba yang rahmatan lil ‘alamin. Karena
ngaji, sedekah dan ibadah tidak harus pergi sebab bulan Ramadhan pergi, dan
Rahmat-Nya akan tetap tersebar dimana-mana.
Ibaratnya
begini, apa jadinya tatkala seorang ibu melahirkan anaknya dan kemudian ia
tidak berkenan merawat si bayi, tidak menyediakan ASI atau susu formula, atau
bahkan malah menelantarkannya?! Tentu tidak akan. Lalu kenapa seorang ibu mau
dan mesti merawat anaknya? Jawabannya, selain memang sudah menjadi naluri
kemanusiaan seorang Ibu, semua itu adalah atas kehendak dan rahmat Allah Swt.
Sudah menjadi ciri kemanusiaan adalah manusia memiliki sifat rahmah (kasih dan
sayang) baik pada sesama maupun pada alam dan rahmah ditengah konflik konflik
sosial yang melanda. Bumi pun demikian, alam khususnya telah menyuplai satu potensi
penting untuk keberhidupan makhluk bumi yang tinggal diatasnya, oksigen,
mineral, benang, kertas dan lain sebagainya itu disediakan oleh bumi
sebagaimana ibu menyediakannya untuk anak-anaknya, untuk sandang, pangan, papan.
Begitu dalam mitologi jawa.
Secara
filosofis puasa ibarat “tiryaq” yakni penawar bagi pertikel-pertikel
racun yang mengendap dalam jiwa, berfungsi sebagai detoksifikasi spiritual.
Dengan puasa kita mengekang dan mematahkan nafsu kebinatangan (bahimiyyah)
yang seringkali menguasai raga ini dengan mengambil alih kendali kemanusiaan
yang tenang menjadi bringas dalam sesaat. Puasa sejatinya melumpuhkan setan
dan tentu sifat sifat yang menyerupainya, rakus, telat waktu, egois dan
semisalnya dan membuka pintu gerbang malakut. Gerbang dimana kemanusiaan
dihargai dan dibangga-banggakan dihadapan para malaikat, sebab melewati ibadah
puasa dan kembali menjadi fitri. Dan ini menjadi satu sebab kenapa mereka yang
berhasil menamatkan puasa dalam satu bulan ramadhan disertai iman dan
pengharapan bakal dihapus dosa-dosanya, sehingga ia kembali fitri laiknya bayi
yang baru lahir dari rahim ibunya.
Puasa yang
beberapa hari lalu usai kita jalani dalam masa satu bulan adalah sekolah, yang
materi pembelajaran utamanya adalah mengekang nafsu keegoisan dan nafsu
keserakahan serta menggembleng manusia untuk memunculkan keperibadian yang
lebih produktif dan peka akan kondisi sosial. Sebabnya, puasa memiliki fungsi
salah satunya adalah menahan diri (self control) karena seperti yang
disabdakan kanjeng Nabi Muhammad, sabda beliau, ”puasa adalah perisai dari
api neraka”. Api neraka sendiri bahan bakarnya adalah manusia. betul, manusia-manusia
yang lalai akan fungsi dan tujuannya diciptakan untuk menempati bumi. Dan
bahkan manusia kategori seperti ini membelakangi bumi untuk tampil heroik
didepan manusia. Menjadikan dunia sebagai topeng akhirat dan akhirnya manusia
manusia seperti ini akan dikelabuhi oleh ulahnya sendiri, baik dengan sadar
maupun tidak. Akhirnya tanpa sadar pikiran dan tindakannya menyelisihi apa yang
dinamakan deity (ketuhanan), humanity (kemanusiaan) dan sosiality
(kemasyarakatan). Karena puasa salah
satu targetnya adalah harus menuntut manusia lebih bisa mengendalikan diri dan
memupuk solidaritas sosial yang tinggi, disamping meningkatkan keimanan.
Refleksi
kemanusiaan juga penting dalam rangka mengelola sikap atau emosional dalam
menerima berbagai masukan yang datang dari luar. Karena setelah kuat menahan
lapar, harusnya kuat menahan beban hidup juga. Konkretnya bisa dilacak diakhir
akhir ini menjelang lebaran dan silaturrahim keluarga biasanya ada saja yang
bertanya mengenai hal hal yang dianggap sebagai privasi seseorang. Misalnya
pertanyaan tentang kapan nikah, kerja apa, gaji berapa dan lain sebagainya. Ada
ruang mungkin yang menjadikan kita merasa pertanyaan tersebut adalah toxic
dan kelewat batas. tapi kalo kita berpikir kembali bahwa motif tetangga atau
orang orang dekat bertanya demikian adalah berbeda-beda. Mungkin benar,
beberapa orang ingin membanding-bandingkan dengan anaknya si anu, putinya si
anu atau yang lain, tetapi dibalik pertanyaan yang mengelus dada itu, bisa saja
malah bagian dari doa dari orang-orang yang sedikit mengabaikan perasaan orang
yang ditanyai ketika mengajukan pertanyaan. Hanya saja kita kurang tenang dalam
menanggapinya dan cenderung bertendensi negatif.
Banyak hal
yang diajarkan selama puasa untuk menumbuhkan sifat kemanusiaan kita dalam
rangka meningkatkan ketaatan pada Tuhan dan berbakti pada sesama. Tetapi
seiring dengan perkembangan terkini peradaban umat manusia kerap kali
membuahkan yang namanya dehumanisasi, manusia yang tak lagi manusiawi begitu komentar
Fahruddin Faiz dalam pengantarnya pada buku menjadi manusia menjadi hamba.
Fakta dehumanisasi ini menimbulkan banyak kebingungan kultural maupun
struktural. Sehingga manusia berevolusi bukan mendekat pada fitrah tetapi malah
menjadi homo homini lupus, mengeksploitasi seenak udelnya sendiri.
Seyyed
Hossen Nasr salah seorang cendekiawan muslim asal Iran mengomentari bahwa
manusia hari ini terjebak dalam perangkap ciptaannya sendiri, baik dalam ranah
saintis, sosialis dan bahkan biologis. Manusia tidak mampu mengembangkan
kemanusiaannya sendiri, karena kediriannya lenyap ditelan oleh sistem dan gaya
hidup yang dibikinnya sendiri. Manusia sebagai cerminan Tuhan dan memiliki
identitas spiritualitas dalam dirinya, begitu kata kebanyakan ahli tasawuf, seharusnya
mampu memancarkan sifat sifat ketuhanan dalam dirinya (takhalluq bi
akhlaqillah), tidak menutup mata terhadap realitas konkret-empiris dan
menghilangkan vitalitas individual manusia untuk mengelola hdupnya. puasa
adalah satu wasilah untuk itu, karena hikmahnya yang mendalam. Tetapi yang jadi
catatan penting adalah manusia menyerap sifat ketuhanan itu bukan untuk dekat
dengan-Nya dan menghilang tak membekas. Sebaliknya, manusia yang paripurna
adalah yang mampu menyerap sifat ketuhanan kemudian ia mengemanasi dan
memancarkan produktivitas dan inovasi dalam bentuk karya ditengah kehidupan
bermasyarakat yang majemuk.
Singkatnya
puasa adalah titah dari Tuhan dan Dia ingin jawabannya dalam bentuk
kebaikan-kebaikan ritual dan sosial, sebagai representasi takwa yang menjadi
tujuan utama puasa itu sendiri, sebagaimana petikan ayat Al-Quran yang
berbunyi, “...kutiba ‘alaikumusyiyam kama kutiba ‘alalladzina min qoblikum
la’allakum tattaquun”.

Komentar
Posting Komentar