Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Cahaya Rasulullah Muhammad

  Tertulis dalam sebuah hikayat bahwa pada hari itu matahari tersenyum cerah, bunga-bunga bermekaran dan pohon-pohon mengandung buahnya. Bumi teguh dengan keindahannya dan awan saling berpadu menatap keagungannya. Burung-burung bergatian menyambut kicau satu dengan yang lain dan hayawan saling berkhabar menyambut kedatangan satu ciptaan yang sudah di rencanakan. Hari itu sebagai pertanda terputus sudah tali kejahiliyahan, kegelapan berganti dengan cahaya, kekosongan berganti dengan kehadiran, kelalaian berganti dengan keselamatan. Hari itu mulai tumbuh benih-benih keberkahan tiap-tiap sudut kota. Ya Rasulallah,,, Ku tambatkan hatiku padamu dengan erat Melebihi apa yang kumiliki, saudara, keluarga dan sahabat karib Kupelajari dirimu, aqwalmu, dan hal Ikhwal terkait kemuliaanmu (Fiqih Sirah) Engkau adalah panduan menuju Sirotol mustaqiem (Islam, Qur'an dan Sunnah) Muhammad begitu panggilnya, lahir dalam keluarga yang terhormat lagi dihormati. Dari rahim seorang Ibu dan Ayah...

Meniti Jalan Kemuliaan Imam An-Nawawi

Abad ke-20 Dimana sudah jamak diketahui, perkembangan tekhnologi begitu masif. Tak hanya itu inovasi juga merambah dibidang kedokteran, ekonomi dan ekologi. Berbagai instrumen dibuat untuk memenuhi hak hidup dan hak bahagia suatu masyarakat modern. Kemajuan demi kemajuan merangsang para ilmuan untuk terus-menerus bereksperimen untuk orientasi masa depan dan jangkauan yang lebih luas bagi umat manusia. Yuval Noah Harari dalam Homo Deus : Masa Depan Umat Manusia menerangkan bahwa beberapa saintis modern bahkan tengah mengembangkan seperangkat riset untuk melawan kematian dan menentang mortalitas manusia. Mereka melihat semakin berkembangnya dunia saintifik, terutama dalam bidang kesehatan dan semakin melemahnya tubuh manusia dari masa ke masa menyebabkan imortalitas atau melawan kematian menjadi salah satu eksperimen ilmiahnya untuk beberapa dekade ke depan paling tidak sebelum gagal. Berprinsip kepada keyakinan agama tentu hal ini adalah ketakmungkinan yang dipaksakan. Entah apa mo...

Ini Judulnya?

 Setiap hari pandanganku tertuju pada obrolan manusia dan kenyamanan bercengkrama, yang disadari atau tidak itu banyak sekali memakan usia. Tetapi anehnya jiwa dan pikiranku mengatakan hal itu sangat berguna dan sulit diabaikan. Sehingga ketika saya agak sedikit sadar dan menilainya dilain waktu, sebenarnya hal itu agak menjemukan dan memuakkan. Dan sebaliknya, hal-hal yang terasa menjemukan dan membosankan (seperti menabung amal misalnya) kemarin atau saat ini, alangkah terasa sangat memuaskan jiwa esok hari (hakikatnya). Menjadi manusia tak lepas dari yang namanya interaksi sosial, demikianlah adanya guna memenuhi hajat hidup, berkawan, berkonsultasi dan menyampaikan apa-apa yang kudu disampaikan. Termasuk himbauan pemerintah kepada masyarakat agar tetap mematuhi protokol kesehatan di masa-masa sulit wabah Covid-19 ini, meskipun kontestasi Pilkada Desember mendatang kabarnya tetap dilaksanakan. Yowes lah... Tentu saya tidak ingin membahas itu. Saya kembali kepada topik. Membaca a...

Jangan hanya karena ingin, menikah juga harus disertai Iman

  Sepertinya bulan Dzul Hijjah lalu, menjadi bulan yang sangat famous bagi para pemangku hajat, wabil husus bagi para calon pengantin yang tengah mempersiapkan tanggal akad pernikahannya. Pasalnya, ini menjadi pra- hari paling mengasyikkan dan hari yang paling mendebarkan selama hidupnya bersama pasangan. Selain (kemungkinannya) menjadi hari pengeluaran dan pemasukan terbanyak sepanjang sejarah hidupnya. Karena mengeluarkan biaya resepsi pernikahan dan sekaligus mendapat banyak pesangon yang dibalut kertas lipat putih itu.  Hari pernikahan bisa di bilang hari menyatunya dua insan. iya benar, menyatu dalam arti hakiki, dua menjadi satu. Sedangkan menyatu dalam makna majasi, bisa diartikan sebagai menyatunya dua pikiran yang harus di selaraskan, menyatunya visi-misi, menyatunya tujuan bersama dan menyatunya pemasukan, dalam rangka mengelola stabilitas hubungan rumah tangga. Agar tidak goyah laiknya kapal yang tidak di nahkodai ahlinya, agar tetap selaras laiknya sendal yang berj...