Abad ke-20 Dimana sudah jamak diketahui, perkembangan tekhnologi begitu masif. Tak hanya itu inovasi juga merambah dibidang kedokteran, ekonomi dan ekologi. Berbagai instrumen dibuat untuk memenuhi hak hidup dan hak bahagia suatu masyarakat modern. Kemajuan demi kemajuan merangsang para ilmuan untuk terus-menerus bereksperimen untuk orientasi masa depan dan jangkauan yang lebih luas bagi umat manusia.
Yuval Noah Harari dalam Homo Deus : Masa Depan Umat Manusia menerangkan bahwa beberapa saintis modern bahkan tengah mengembangkan seperangkat riset untuk melawan kematian dan menentang mortalitas manusia. Mereka melihat semakin berkembangnya dunia saintifik, terutama dalam bidang kesehatan dan semakin melemahnya tubuh manusia dari masa ke masa menyebabkan imortalitas atau melawan kematian menjadi salah satu eksperimen ilmiahnya untuk beberapa dekade ke depan paling tidak sebelum gagal.
Berprinsip kepada keyakinan agama tentu hal ini adalah ketakmungkinan yang dipaksakan. Entah apa motivasinya yang jelas penyakit, pandemi, kecelakaan , gempa dan kekuatan alam itu sanggup merenggut nyawa banyak orang sekaligus, selain penyakit menua. Kalaupun umur panjang yang ingin dicapai, permasalahannya bukan pada panjangnya umur yang harusnya ditingkatkan melainkan produktivitas umur itu sendiri. Sebagaimana Kanjeng Nabi bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang dikaruniai umur panjang dan baik lakunya".
Tetapi apalah arti umur yang panjang jika terus-menerus dalam kekosongan. Juga apalah arti umur panjang jika terus-menerus dilanda konflik dan kegelisahan alih-alih berlaku baik dan menebar ketentraman.
Tentang bagaimana memanfaatkan umur, saya rasa kita bisa berkaca pada Imam An-Nawawi Al Faqih Al Hafidz. Beliau salah seorang ulama' terkemuka manhaj Syafi'i. Dalam muqaddimah Al Adzkar Min Kalami Sayyidil Abror diterangkan bahwa usia beliau tak lebih dari 45 tahun. Beliau dilahirkan di kota Nawa pada tahun ٦٣١ H dan meninggal pada usia ٦٧٦ H. Dia tumbuh disana dan sudah belajar Al Qur'an sedari kecil. Kemudian menginjak remaja, tepatnya pada usia 18 tahun Imam Nawawi berangkat menuju ibu kota Damaskus untuk menimba ilmu (raihlah ilmiah). Dalam usianya yang relatif singkat itu imam Nawawi telah melewati fase ilmiah berupa menuntut, mengajar dan berkarya dibidang keilmuan Islam. Dikisahkan bahwa selama dua tahun Imam Nawawi tak membaringkan punggungnya di tanah karena kedekatan dan cintanya terhadap ilmu, bahkan dalam belajar beliau membaca (muthola'ah) dua belas kitab dalam sehari semalam. Diantara kitab yang beliau kaji adalah al Muhazzab dan at Tanbih serta banyak kitab lainnya.
Imam An-Nawawi dan Produktifitas
Imam Nawawi menghabiskan siang dan malamnya dengan mengkaji berbagai buku, kemudian beliau memberikan komentar dan catatan kecil setiap apa yang telah dibacanya. Membuat jadwal pembelajaran, menyetorkan hasil pelajarannya kepada gurunya, dan mengulanginya. Begitu Imam Nawawi dengan keteguhan dan kegigihannya menuntut Ilmu.
Berbagai karya yang telah lahir dari penanya dan menjadi rujukan pembelajaran di pesantren-pesantren diantaranya Al Adzkar An-Nawawi, Riyadhus Sholihin, Al-Majmu' Syarah Al Muhadzab, Syarah Shohih Muslim, Arbain Nawawi dan lainnya. Rodhiyallahu Ta'ala Anhu
Komentar
Posting Komentar