Langsung ke konten utama

Intelektualisme Ibrahim a.s. Muda

 

Wal tandzur nafsun maa qoddamat lighod (in). begitu bunyi petikan ayat Al-Quran yang terambil dari Q.S. 59:18. Kata ini kurang lebih memiliki makna, “perhatikan sejarahmu untuk masa depanmu”. Masa depan disini (lighod) menurut apa yang dikemukakan oleh Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin asy-Syuyuthi dalam tafsir Jalalain adalah hari kiamat, begitu pula Imam Al-Qurtubi. Bahkan ada juga yang memaknai kata “lighod” ini sesuai dengan aslinya, yakni besok. Ini menandakan bahwa penting sekali bagi kami dan kamu untuk senantiasa introspeksi diri guna menapakkan kaki untuk berjalan lurus kedepan (kalo belok jangan lupa belok) dan mawas diri serta menjadikan kejadian di waktu yang kemarin-kemarin adalah sebagai pelajaran yang sangat berharga.

Ibrahim a.s. dalam realitas sejarah telah disematkan pada dirinya sebagai bapak kaum muslimin (father of monotheism). Kiprahnya yang sangat monumental dalam mempertahankan keyakinan tauhid menjadikannya layak ditiru oleh kaum muslimin. Bahkan beliau dikenal sebagai tokoh besar dalam tiga agama samawi yakni Yahudi, Kristen dan Islam. Menengok kembali kisah ibrahim a.s. adalah suatu refleksi yang bisa memberikan daya nalar kepada kamu dan kita terhadap persepsi alam dan korelasinya terhadap keberadan Tuhan.

Ibrahim a.s. muda dilahirkan di daerah Babilonia, sebuah kota kuno yang terletak di daerah Mesopotamia atau Irak. Kebanyakan kaumnya waktu itu adalah menganut kepercayaan terhadap kekuatan kebendaan, menyembah bintang, matahari, bulan dan juga penyembah patung berhala sebagai representasi dari kekuatan alam itu sendiri. Ayah Ibrahim a.s. yang bernama Azar -ada yang mengatakan bahwa nama ayahnya adalah Terakh- sendiri berprofesi sebagai pemahat patung berhala untuk dijual di kalangan kaumnya. Hal inilah yang memicu ibrahim muda untuk menggunakan daya pikirnya mempertaanyakan hal ihwal ini semua. Kenapa kaumnya menyembah berhala, toh mereka sendiri yang membuatnya, berhala itu tak bergerak sedikitpun ketika dicaci bahkan dihina. Nalar kritis Ibrahim a.s. muda membawanya pada satu asumsi baru untuk melakukan hiotesa-hipotesa sederhana tentang bagaimana wujud dunia dan dirinya ini bermula.

Secara eksplisit kita dapat merujuk dialog lahiriyah dan batiniyah Ibrahim a.s. ini dalam Q.S. Al-an’am ayat 76-79 dalam rangka pencariannya terhadap Tuhan yang sesungguhnya. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) berkata, "Inilah Tuhanku.” Tetapi tatkala bintang itu lenyap, dia berkata, "Saya tidak suka kepada yang lenyap.”

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, "Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, "Sesungguhnnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat."

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar." Maka tat­kala matahari itu telah terbenam, dia berkata, "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.

Seperti Rene Descartes yang menggunakan metode keraguan (methodical doubt) untuk menuju jalan kebenaran dalam filsafat modern, Ibrahim juga (menurut saya) jauh sebelumnya sudah menerapakan hal yang (mungkin) sama. Bertitik tolak dari keraguan (terhadap penyembahan bintang, bulan dan matahari) dan melakukan analisis terhadap pancaindera dan akal. Sebagai sebuah konklusi Ibrahim mengambil kesimpulan bahwa ada Dzat yang Maha Agung (the big creator) yang mengatur sistem kehidupan umat manusia. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh ayat selanjutnya, yakni, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Konsep ketuhanan (pencarian terhadap Tuhan) yang dideklarasikan Ibrahim a.s. tampaknya memicu kita untuk lebih kritis dan belajar memahami sesuatu untuk mencari kebenaran yang tersembunyi dari aspek lahiriahnya semata. Pertama Ibrahim a.s. mengamati dengan seksama apa dan bagaimana aktifitas kaumnya. Kemudian Ibrahim a.s. mendayagunakan pancaindera dan akalnya untuk mengamati setiap fenomena terjadi setiap kali mencuri perhatian. Terakhir yang dilakukan Ibrahim adalah a.s. upaya untuk mencari kekuatan yang paling superioritas ketimbang apa yang sudah ia anggap sebagai tuhan sebelumnya. Wallahu a’lam

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nalar Hijau Keislaman

Dalam kacamata universal implementasi ke-berislam-an sangatlah heterogen, baik yang terkait dengan pemikiran maupun sikap. Ada yang sifatnya substansial dan urgen ( wajib ) ada juga yang sifatnya umum dan bisa ditolerir ( sunnah ) . Salah satu contohnya adalah larangan dalam Al-Quran yang menyatakan agar manusia mengindari kerusakan ( wala tufsidu fil ardhi ba’da islahiha ). Sebagaimana konsep hukum yang ada, maka setelah adanya larangan biasanya hal tersebut tidak patut dilakukan. Dalam konteks ini berarti dilarang melakukan kerusakan dan sebaliknya harus melakukan perbaikan. Siapa yang melanggarnya ia akan dikenai sanksi (dosa) dan pertanggung jawban. Adapun larangan diatas, sebenarnya bermaksud agar manusia menjaga ekosistem alam dan habitatnya, karena memang dampaknya yang   sangat luar biasa, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik dampak individu maupun dampak kolektif. Itulah mengapa dalam kaidah fiqih dinyatakan menghindari mafsadat lebih didahulukan daripada mend...

Pasca Puasa : Dari Orientasi Ilahiyyah Menuju Insaniyyah

                        Ini anjuran untuk diri saya pribadi bahwa, jangan menjadi hamba Ramadhan, yang stuck dan berhenti beribadah ketika bulan puasa telah berlalu, tetapi jadilah hamba Allah Swt, yang tetap istiqomah mendekat dan memperbarui kemanusiaan setiap waktu dalam rangka menjadi hamba yang rahmatan lil ‘alamin . Karena ngaji, sedekah dan ibadah tidak harus pergi sebab bulan Ramadhan pergi, dan Rahmat-Nya akan tetap tersebar dimana-mana.                 Ibaratnya begini, apa jadinya tatkala seorang ibu melahirkan anaknya dan kemudian ia tidak berkenan merawat si bayi, tidak menyediakan ASI atau susu formula, atau bahkan malah menelantarkannya?! Tentu tidak akan. Lalu kenapa seorang ibu mau dan mesti merawat anaknya? Jawabannya, selain memang sudah menjadi naluri kemanusiaan seorang Ibu, semua itu adalah atas kehendak dan rahmat Al...