Allah SWT dalam penyampaian risalah-Nya pertama kali menggunakan redaksi Iqro’. Makna ini sederhananya bisa dipahami sebagai perintah untuk membaca, menelaah, dan atau menghimpun. Adapun asal kata iqro itu sudah maklum dan biarlah itu menjadi fokus para ahli sastra, atau nanti bisa ditelaah lebih lanjut.
Filosofi membaca diawal Kalam itu memberi isyarat Ilahiah tersendiri bahwasannya manusia dengan superioritas akalnya harus senantiasa memperhatikan fenomena alam yang ada di sekitarnya, karena pada dasarnya realisasi perintah untuk membaca pada ayat tersebut bukan melulu mewajibkan adanya teks bacaan sebagai objek tertulis atau menganggapnya hanya sebatas ucapan belaka. Lebih dari itu eksistensi membaca disitu menurut apa yang dikemukakan Prof. KH. Nasaruddin Umar adalah upaya memahami dan menelaah lebih dalam tentang alam semesta yakni alam makrokosmos yang dalam hal ini bagi saya adalah erat kaitannya dengan membaca alam, merenungi kejadian-kejadiannya dan membaca lingkungan sekitar kita. Dan lagi, membaca disini adalah lambang dari segala aktifitas manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Setidaknya makna membaca ini memiliki ruh dan pergerakan atas nama Tuhan. Bergerak, berpikir dan beraktifitas atas nama Tuhan.
Kita sebagai manusia yang disematkan gelar
khalifah di bumi oleh Tuhan hendaknya mewakili sifat-sifat ketuhanan itu dalam
refleksi hidup bermasyarakat dan kesadaran berlingkungan, sehingga apa yang
kita baca dari ayat-ayat tuhan baik tekstual maupun kontekstual dan apa yang
kita pahami dari sifat-sifat ketuhanan itu memunculkan kesalehan ritual dan
kesalehan sosial ekologi dalam bentuk mencintai lingkungan, mencintai menanam
dan mencintai alam semesta.
Al-Quran dan Tumbuhan
Islam adalah agama cinta (religion of love) agama yang harmonis, dalam artian perwujudan Islam harus meng-emanasi (memancar) pada setiap gerak dan laku pemeluknya. Termasuk bagaimana memperlakukan makhluk hidup, baik sesama manusia maupun pada tumbuhan. Nabi Muhammad sebagai sosok perwujudan absolute akan nilai-nilai Islam pun memberi perhatian soal Ekologi. Dalam sabdanya beliau pernah berkata pada para sahabat. kata beliau, “Tidaklah seorang muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian pohon/ tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia atau binatang melainkan menjadi sedekah baginya.” hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari. Nabi Muhammad dalam beberapa fase kehidupannya beliau juga pernah menanam pohon kurma.
Karakter dan kesadaran akan ekosistem alam bagi saya menjadi begitu sangat penting, hal ini sebagai bentuk ketundukan dan pengejawantahan akan perintah Tuhan, apalagi pada masa semakin sempitnya ruang terbuka hijau dan masifnya pembangunan konvensional pada saat ini. Seharusnya kita sadar diri bahwa kita dan alam adalah life collaboration maksudnya adalah keduanya saling menopang dalam fungsinya sebagi makhluk. Apabila keseimbangan ini goyah (unstable) maka salah satu satu dari keduanya terkena imbasnya. Dan dampaknya bisa bermacam-macam, mulai dari semakin memburuknya polusi udara, banjir, tanah longsor dan gejala alam lainnya.
Hadits di atas memberi gambaran subyektif
terkait dengan aksi kecil yang berdampak sangat besar bagi struktur kehidupan.
Benar, menanam satu tanaman akan memberi kemanfaatan berkelanjutan bagi
siapapun. Binatang merasakan kemanfaatannya dari buah maupun bunganya, manusia
bisa memanfaatkan buahnya dan udara akan menjadi lebih bersih.
Sedangkan realitas sejarah islam dalam rangka menjaga dan merawat lingkungan hidup itu sendiri tergambarkan dengan seksama tatkala kita melihat bagaimana sikap Nabi ketika memimpin salah satu peperangan yang sedang berlangsung antara kaum muslim dan kaum kafir. Nabi mengingatkan pasukannya agar siapapun tidak boleh membunuh janda-janda atau anak-anak yang tidak ikut berperang, merusak gereja atau bangunan lainnya dan tidak boleh membabat tumbuhan hijau yang ada lingkungan mereka. Nabi selain memerintahkan untuk menjaga harkat dan martabat kemanusiaan, tetapi juga melindungi tumbuhan. Melarang untuk merusak kebun-kebun dan ladang. Karena Nabi memahami, betapapun perang itu mempertaruhkan banyak nyawa tetapi hakikatnya juga untuk melindungi nyawa yang lebih banyak. Termasuk melindungi tumbuhan, karena pada satu batang pohon ada kehidupan disana yang barangkali sangat lama sekali kita untuk menanam kembali tatkala dicabut atau dimatikan.
“Dan Dia-lah yang menurunkan air dari langit,
lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami
keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari
tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma, mengurai
tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan
pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah
buahnya pada waktu berbuah, dan menjadi masak. Sungguh, pada yang demikian itu
ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman”. (Q.S.
Al-An’am : 99)
*artikel ini sebelumnya pernah dimuat di rumahbacakomunitas.org

Komentar
Posting Komentar