Langsung ke konten utama

Ini Judulnya?

 Setiap hari pandanganku tertuju pada obrolan manusia dan kenyamanan bercengkrama, yang disadari atau tidak itu banyak sekali memakan usia. Tetapi anehnya jiwa dan pikiranku mengatakan hal itu sangat berguna dan sulit diabaikan. Sehingga ketika saya agak sedikit sadar dan menilainya dilain waktu, sebenarnya hal itu agak menjemukan dan memuakkan. Dan sebaliknya, hal-hal yang terasa menjemukan dan membosankan (seperti menabung amal misalnya) kemarin atau saat ini, alangkah terasa sangat memuaskan jiwa esok hari (hakikatnya).


Menjadi manusia tak lepas dari yang namanya interaksi sosial, demikianlah adanya guna memenuhi hajat hidup, berkawan, berkonsultasi dan menyampaikan apa-apa yang kudu disampaikan. Termasuk himbauan pemerintah kepada masyarakat agar tetap mematuhi protokol kesehatan di masa-masa sulit wabah Covid-19 ini, meskipun kontestasi Pilkada Desember mendatang kabarnya tetap dilaksanakan. Yowes lah... Tentu saya tidak ingin membahas itu.


Saya kembali kepada topik. Membaca adalah sebagian aktifitas kita setiap hari, dan itu bagian dari interaksi manusia dengan manusia atau manusia dengan Tuhan. Selama kita mengira bahwa yang di sekeliling kita adalah cuma manusia, tentu fokus interaksi kita setiap hari adalah dengan manusia. biasa membaca pesan via chat, telpon, atau pidio call. Dan karena kesadaran kita dekat dan diawasi  oleh Tuhan itu tidak banyak, karena Dia belum nampak di hati kita, maka interaksi dengan-Nya pun masih sangat singkat. Interaksi yang saya maksud adalah membaca pesan-pesan Tuhan dalam bentuk teks yang berupa Mushaf Usmani (Al Qur'an). 


Berkaitan dengan Al Qur'an ada pernyataan mengagumkan dari salah seorang ulama', beliau berkata, "Jika kamu ingin berbicara dengan Tuhan, maka berdoalah, jika kamu ingin Tuhan bicara padamu maka bacalah Al Qur'an". Mengingat Al Qur'an adalah Kalam Allah, makna dan redaksinya dari Allah, Kalimat-kalimat Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril, dimulai dengan Al Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas dan membacanya adalah bentuk ibadah. Itu sebagai bukti adanya Tuhan dan sebagai pesan cintaNya pada Hambanya.


Seberapa sering kita nyekrol hape dan atau berapa banyak kita membuka lembaran Qur'an dalam sehari?! Padahal, kodifikasi (pengumpulan) Al Qur'an (yang ditangan kita saat ini) sangatlah butuh perjuangan lahir dan batin, mulai dari hafalan Nabi Muhammad dan para sahabat hingga mencatatnya di bebatuan, pelepah kurma, potongan tulang-belulang dll. Keyakinan Abu Bakar atas usulan Umar ibn Khattab untuk mengumpulkan Al Qur'an (berupa teks) yang masih berada di tangan para sahabat, karena kekhawatiran Umar atas peristiwa banyaknya Qari (penghafal Quran) yang terbunuh di perang Yamamah. Dan kebijaksanaan Usman bin Affan untuk menyatukan Mushaf pada satu imam, karena pada saat itu Islam menyebar luas dan pengaruh berbagai daerah dalam logat menyebabkan pengucapan Al Qur'an menjadi berbeda-beda, bahkan sampai saling salah menyalahkan menganggap bacaan mereka yang paling benar. Atas inisiatif itu Usman meminta Mushaf yang dibawa Hafsah binti Umar dan kemudian memerintah Sahabat Ubai bin Ka'ab dan lainnya untuk menyeragamkan bacaan. Serta perintah Sayyidina Ali (ada yang mengatakan Malik) kepada Abul Aswad Ad Du'ali untuk memberikan syakal dan harakat, karena pada saat itu Abul Aswad menyaksikan ada orang yang berbeda dalam pelafalan al Qur'an. 


Itu sekilas kisah pengumpulan Al Qur'an yang ada ditangan kita saat ini. Disamping kemuliaannya, ternyata butuh proses panjang dan itulah janji Tuhan, "Inna nahnu nazzalna adz dzikro, wa Innaa lahuu lahaafidzun".


Membaca Al Qur'an adalah interaksi intim kita dengan Allah, Tuhannya Nabi Muhammad SAW, Tuhannya Para Jin, Tuhannya Tumbuh-tumbuhan dan Tuhannya bagi siapa yang tidak menghendakinya, ia (membaca) adalah bentuk sapaan kita kepada Allah, menjadikan ia sandaran dan tempat aduan dan berpegang padanya kala kita hendak terlepas. Membaca Al Qur'an adalah menjalin ikatan berupa tali panjang, satu sisi ditangan kita, sisi lainnya di "Tangan" Allah SWT, yang ia akan membuatnya selalu terhubung dan tak akan tersesat selama-lamanya. Membaca Al Qur'an adalah ittiba' kepada Baginda Muhammad, pada para sahabat dan para orang-orang shaleh dulu dan kini, ia menghidupkan agama, menyirami hati yang pupus nan kering kerontang. Membaca Al Qur'an adalah memuliakan apa yang dimuliakan oleh Allah, menghargai apa yang dihargai Allah, Malaikat, Rasul, Sahabat dan para Salafus Shalih dulu, kini dan nanti. Allahu a'lam


Akhirnya aktifitas membaca untuk mengurangi mengobrol ini saya anggap sebagai sebuah aktifitas positif yang terasa negatif dan ini (tulisan akhir) saya kaitkan dengan paragraf diawal tulisan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Intelektualisme Ibrahim a.s. Muda

  Wal tandzur nafsun maa qoddamat lighod (in). begitu bunyi petikan ayat Al-Quran yang terambil dari Q.S. 59:18. Kata ini kurang lebih memiliki makna, “perhatikan sejarahmu untuk masa depanmu”. Masa depan disini (lighod) menurut apa yang dikemukakan oleh Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin asy-Syuyuthi dalam tafsir Jalalain adalah hari kiamat, begitu pula Imam Al-Qurtubi. Bahkan ada juga yang memaknai kata “lighod” ini sesuai dengan aslinya, yakni besok. Ini menandakan bahwa penting sekali bagi kami dan kamu untuk senantiasa introspeksi diri guna menapakkan kaki untuk berjalan lurus kedepan (kalo belok jangan lupa belok) dan mawas diri serta menjadikan kejadian di waktu yang kemarin-kemarin adalah sebagai pelajaran yang sangat berharga. Ibrahim a.s. dalam realitas sejarah telah disematkan pada dirinya sebagai bapak kaum muslimin (father of monotheism). Kiprahnya yang sangat monumental dalam mempertahankan keyakinan tauhid menjadikannya layak ditiru oleh kaum musli...

Nalar Hijau Keislaman

Dalam kacamata universal implementasi ke-berislam-an sangatlah heterogen, baik yang terkait dengan pemikiran maupun sikap. Ada yang sifatnya substansial dan urgen ( wajib ) ada juga yang sifatnya umum dan bisa ditolerir ( sunnah ) . Salah satu contohnya adalah larangan dalam Al-Quran yang menyatakan agar manusia mengindari kerusakan ( wala tufsidu fil ardhi ba’da islahiha ). Sebagaimana konsep hukum yang ada, maka setelah adanya larangan biasanya hal tersebut tidak patut dilakukan. Dalam konteks ini berarti dilarang melakukan kerusakan dan sebaliknya harus melakukan perbaikan. Siapa yang melanggarnya ia akan dikenai sanksi (dosa) dan pertanggung jawban. Adapun larangan diatas, sebenarnya bermaksud agar manusia menjaga ekosistem alam dan habitatnya, karena memang dampaknya yang   sangat luar biasa, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik dampak individu maupun dampak kolektif. Itulah mengapa dalam kaidah fiqih dinyatakan menghindari mafsadat lebih didahulukan daripada mend...

Pasca Puasa : Dari Orientasi Ilahiyyah Menuju Insaniyyah

                        Ini anjuran untuk diri saya pribadi bahwa, jangan menjadi hamba Ramadhan, yang stuck dan berhenti beribadah ketika bulan puasa telah berlalu, tetapi jadilah hamba Allah Swt, yang tetap istiqomah mendekat dan memperbarui kemanusiaan setiap waktu dalam rangka menjadi hamba yang rahmatan lil ‘alamin . Karena ngaji, sedekah dan ibadah tidak harus pergi sebab bulan Ramadhan pergi, dan Rahmat-Nya akan tetap tersebar dimana-mana.                 Ibaratnya begini, apa jadinya tatkala seorang ibu melahirkan anaknya dan kemudian ia tidak berkenan merawat si bayi, tidak menyediakan ASI atau susu formula, atau bahkan malah menelantarkannya?! Tentu tidak akan. Lalu kenapa seorang ibu mau dan mesti merawat anaknya? Jawabannya, selain memang sudah menjadi naluri kemanusiaan seorang Ibu, semua itu adalah atas kehendak dan rahmat Al...