Langsung ke konten utama

Membangun Manusia Pancasila



MEMBANGUN MANUSIA PANCASILA

Menyoal Pancasila, pikiran saya terbawa pada situasi dan kondisi dimana kota Madinah yang dapat berkompromi dalam sebuah kesepakatan tunggal dibawah pijakan Piagam Madinah meski masyarakatnya dihuni oleh berbagai macam kalangan dan mayoritas berbeda keyakinan. Lalu soal siapa figur yang merepresentasikan Pancasila dalam artian memandang kebinekaan sebagai kekuatan dan bukan perpecahan adalah Muhammad Bin Abdullah Bin Abdul Mutholib dari Bangsa Quraisy sebagai peletak dasar Piagam Madinah. Menurut pandangan saya bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang toleran, menghargai perbedaan dan mengarusutamakan asas kesepakatan yang telah disetujui bersama. Hal ini dapat kita lihat pada dimensi hidup Rasulullah ketika berdampingan dengan Yahudi, Nasrani maupun Majusi dan aliran kepercayaan lainnya di Madinah.
Pancasila (lima dasar) sebagai identitas dan ideologi sebuah bangsa, saya rasa inheren dengan piagam madinah tempo dulu. Sehingga, tak berlebihan jika saya mengatakan bahwa Pancasila adalah Piagam Madinah abad ini atau paling tidak mirip-mirip dalam konteksnya yang lebih luas seperti unsur kesetaraan dan kerukunan. Bagaimana masing-masing terbentuk atas dasar ketauhidan, solidaritas, dan kemaslahatan bersama, menghargai nilai-nilai pluralitas dan menjunjung tinggi falsafah hidup bersama. Sama sekali tidak menganjurkan bagi masyarakatnya untuk egois, mengakuisisi kepentingan dan apalagi merampas hak-hak orang lain. Karena Pancasila adalah emanasi dari agama dan agama mengajarkan manusia untuk lurus dan lembut dalam menerapkan ajaran agama itu sendiri.
Sebagai individu yang faham akan nilai-nilai pancsila dan sebagai kelompok yang menghargai kemajemukan, kita semua hendaknya lebih merenungi kembali makna Pancasila itu sendiri dan menginterpretasikan setiap butir-butir pancasila dalam praktik hidup sehari-hari. Bagi saya manusia (yang berwawasan) Pancasila ialah mereka yang memiliki ketauhidan yang kuat, kesadaran akan kemajemukan, dan memiliki wawasan soal berinteraksi dan aplikasi pada masyarakat luas.


Ketauhidan Yang Kuat
Karena Indonesia adalah sebuah Negara yang penduduknya memeluk agama-agama tertentu, bukan Negara atas dasar satu agama. Memiliki budaya-budaya tertentu dan bukan hanya satu budaya. Menyimpan tradisi-tradisi tertentu dan setiap tradisi berbeda-beda. Sehingga dibutuhkan jalinan yang kuat untuk memahami itu semua, bahwasannya Tuhan menciptakan ciptaannya bermacam-macam warna, rasa dan bentuk guna dari masing-masing elemen tersebut saling mengenal dan belajar satu sama lain. Bukan berarti harus berpecah belah, karena sebuah perbedaan adalah rahmat jika masing-menyadari, dan perpecahan adalah laknat jika masing-masing tidak menyadari.
Ketauhidan bagi saya menempati posisi yang prinsip dalam peranan sosial bermasyarat, tentu ketauhidan yang dibarengi kasih sayang dan wawasan ilmu yang luas (kolektif) bukan ketauhidan atas dasar ego dan fanatik belaka. Manakala manusia percaya kepada Tuhan (tauhid), barang tentu ia percaya akan aturan-aturan dan batasan-batasan yang telah ditetapkan. Seperti larangan berbuat kerusakan di bumi, dan justru sebaliknya manusia diperintah untuk melestarikannya dengan merawat tumbuh-tumbuhannya, ekosistemnya. Larangan untuk membunuh jiwa dan justru sebaliknya Tuhan memerintahkan agar menjaga jiwa yang lain. Ketauhidan dalam agama juga mengajarkan manusia untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain, agama lain, budaya lain, kelompok lain selama masih manusia.

Kesadaran Akan Kemajemukan
Kompleksitas rasa itu bermacam-macam, ada manis, asin, masam. Seperti kehidupan ini yang banyak rasa dan kompleks. Tetapi dari hal ini manusia bisa belajar bahwa manusia itu heterogen. Kemajemukan ada ditengah-tengah kita semua, didepan, samping dan belakang. Sungguh ironis manusia yang ingin menyatukan perbedaan, seakan-akan ia menghendaki hanya ada satu eksistensi (hanya dirinya). Padahal faktanya kreasi Tuhan itu bermacam-macam dan berbeda-beda, mulai dari Negara ini saja sudah ada bermacam-macam pulau, ada jawa, Sulawesi, Sumatra dan lainnya. Ada berbagai macam suku, mulai dari suku Sunda, Batak. Agama yang berbeda-beda ada Hindu, Budha, Kristen, Islam dan lain-lain.
Tuhan itu satu, selain Tuhan berarti memiliki potensi kemungkinan ganda dan banyak. Jika manusia menolak, maka hakikatnya ia telah tidak sepakat dengan kehendak Tuhan. Perintahnya manusia harus saling menerima dan ini bentuk pelajaran dari Tuhan apakah manusia itu menyombongkan diri dengan adanya situasi seperti ini atau manusia melebur dengan keberagaman yang ada sembari meninggikan apa yang telah digariskan oleh Tuhan.

Interaksi Sosial
Pancasila tidak hanya berhenti pada kajian teori dan wacana belaka, lebih dari itu nilai-nilai pancasila harus meresap dan menjadi suplemen dalam berinteraksi sosial dan menentukan sikap. Hal ini berkaitan dengan landasan bahwa Pancasila adalah sumber daripada segala sumber hukum dalam menerapkan aturan tata Negara yang mengaku sebagai Negara hukum. Praktik pengambilan hukum tidak lepas dari idiom-idiom atau norma-norma yang berasaskan pancasila. Kemudian gagasan pancasila ini harus bermetamorfosa menjadi sebuah tindakan, baik dalam komunitas kecil, masyarakat, lingkungan sosial dan bahkan Negara sekalipun. dengan berbagai macam aplikasinya tanpa lepas dari asas Pancasila itu sendiri. *@zamanxyz.id



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Intelektualisme Ibrahim a.s. Muda

  Wal tandzur nafsun maa qoddamat lighod (in). begitu bunyi petikan ayat Al-Quran yang terambil dari Q.S. 59:18. Kata ini kurang lebih memiliki makna, “perhatikan sejarahmu untuk masa depanmu”. Masa depan disini (lighod) menurut apa yang dikemukakan oleh Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin asy-Syuyuthi dalam tafsir Jalalain adalah hari kiamat, begitu pula Imam Al-Qurtubi. Bahkan ada juga yang memaknai kata “lighod” ini sesuai dengan aslinya, yakni besok. Ini menandakan bahwa penting sekali bagi kami dan kamu untuk senantiasa introspeksi diri guna menapakkan kaki untuk berjalan lurus kedepan (kalo belok jangan lupa belok) dan mawas diri serta menjadikan kejadian di waktu yang kemarin-kemarin adalah sebagai pelajaran yang sangat berharga. Ibrahim a.s. dalam realitas sejarah telah disematkan pada dirinya sebagai bapak kaum muslimin (father of monotheism). Kiprahnya yang sangat monumental dalam mempertahankan keyakinan tauhid menjadikannya layak ditiru oleh kaum musli...

Nalar Hijau Keislaman

Dalam kacamata universal implementasi ke-berislam-an sangatlah heterogen, baik yang terkait dengan pemikiran maupun sikap. Ada yang sifatnya substansial dan urgen ( wajib ) ada juga yang sifatnya umum dan bisa ditolerir ( sunnah ) . Salah satu contohnya adalah larangan dalam Al-Quran yang menyatakan agar manusia mengindari kerusakan ( wala tufsidu fil ardhi ba’da islahiha ). Sebagaimana konsep hukum yang ada, maka setelah adanya larangan biasanya hal tersebut tidak patut dilakukan. Dalam konteks ini berarti dilarang melakukan kerusakan dan sebaliknya harus melakukan perbaikan. Siapa yang melanggarnya ia akan dikenai sanksi (dosa) dan pertanggung jawban. Adapun larangan diatas, sebenarnya bermaksud agar manusia menjaga ekosistem alam dan habitatnya, karena memang dampaknya yang   sangat luar biasa, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik dampak individu maupun dampak kolektif. Itulah mengapa dalam kaidah fiqih dinyatakan menghindari mafsadat lebih didahulukan daripada mend...

Pasca Puasa : Dari Orientasi Ilahiyyah Menuju Insaniyyah

                        Ini anjuran untuk diri saya pribadi bahwa, jangan menjadi hamba Ramadhan, yang stuck dan berhenti beribadah ketika bulan puasa telah berlalu, tetapi jadilah hamba Allah Swt, yang tetap istiqomah mendekat dan memperbarui kemanusiaan setiap waktu dalam rangka menjadi hamba yang rahmatan lil ‘alamin . Karena ngaji, sedekah dan ibadah tidak harus pergi sebab bulan Ramadhan pergi, dan Rahmat-Nya akan tetap tersebar dimana-mana.                 Ibaratnya begini, apa jadinya tatkala seorang ibu melahirkan anaknya dan kemudian ia tidak berkenan merawat si bayi, tidak menyediakan ASI atau susu formula, atau bahkan malah menelantarkannya?! Tentu tidak akan. Lalu kenapa seorang ibu mau dan mesti merawat anaknya? Jawabannya, selain memang sudah menjadi naluri kemanusiaan seorang Ibu, semua itu adalah atas kehendak dan rahmat Al...