Langsung ke konten utama

no simis



Menepis Pesimistis


Pesimis itu datang dari hasutan setan, yang menembus pikiranmu karena benteng (harapan dan keyakinan) mu pada Tuhan sedang mengerdil dan kehilangan jejaknya. Jangan teruskan dan bilang pada dirimu stop negative thinking pada diri sendiri. Karena justru hal itu (pesimistis) akan menggerogoti jiwa, dan merambat ke jasad kemudian melemahkan raga dan angan.
Semua faktor muncul dari dalam (diri) dan luar (diri). Dari dalam diri biasanya, keengganan untuk mempercayai kekuatan yang telah dititipkan Tuhan kepadanya, jera akan pengalaman yang telah dilakukannya, dan merasa ndak mampu untuk come back. Sedangkan masalah yang muncul dalam dirinya itu berkaitan dengan orang-orang sekitar, kondisi lingkungan, dan tekanan yang menimpanya dari berbagai sisi, entah itu batinyya atau dhahirnya.
Bukan berarti manusia tidak pernah pesimis dalam hidupnya, hanya saja sebagai manusia yang dicipta yang memiliki banyak potensi kebaikan yang dianugerahkan olleh Tuhan, hendaklah bisa kita maksimalkan kelebihan itu. Karena setiap manusia memiliki kelebihannya masing-masing, dan tidak sama antara satu orang dan orang lain. Corak berpikir, bertindak dan mengahadapi sesuatu antara satu orang dengan orang lain itu tak sama.
Pertama, kita harus menyadari bahwa kita adalah makhluq yang dicipta Tuhan serta dipercaya mampu mengemban amanah hidup ini. Mungkin Tuhan menguji kita dengan kekalahan dan kegagalan. Tetapi Tuhan juga telah menakdirkan serta mencipta jalan keluarnya untuk kita menang pada akhirnya. Jalan itu adalah optimis, yakni percaya pada diri sendiri bahwa kita masih ada yang berkenan membantu, siapa lagi kalau bukan Tuhan (Allah) yang membantu.
Kedua, kita punya keluarga dan teman yang sudi untuk membantu dan meringankan keluh kesah kita, saat kita berbincang” dengannya. Menyalurkan aspirasi dan mencari solusi bersama akan aktivitas kita selanjutnya.
Ketiga, kamu punya Tuhan, yang Tuhan itu namanya Allah, yang mengetahui masa depanmu, mengetahui hatimu, mengetahui kerja kerasmu, ia akan membayarnya dengan harga yang pantas. Syaratnya kamu harus megikutkan Allah pada setiap amal usahamu, mulai dengan menyebut namaNya, dan akhiri dengan kalimat untuk memujiNya. Insyaalah ketika Tuhanmu kau buat tersenyum, maka minta apapun kamu akan diiyakan (isnyaallah).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Intelektualisme Ibrahim a.s. Muda

  Wal tandzur nafsun maa qoddamat lighod (in). begitu bunyi petikan ayat Al-Quran yang terambil dari Q.S. 59:18. Kata ini kurang lebih memiliki makna, “perhatikan sejarahmu untuk masa depanmu”. Masa depan disini (lighod) menurut apa yang dikemukakan oleh Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin asy-Syuyuthi dalam tafsir Jalalain adalah hari kiamat, begitu pula Imam Al-Qurtubi. Bahkan ada juga yang memaknai kata “lighod” ini sesuai dengan aslinya, yakni besok. Ini menandakan bahwa penting sekali bagi kami dan kamu untuk senantiasa introspeksi diri guna menapakkan kaki untuk berjalan lurus kedepan (kalo belok jangan lupa belok) dan mawas diri serta menjadikan kejadian di waktu yang kemarin-kemarin adalah sebagai pelajaran yang sangat berharga. Ibrahim a.s. dalam realitas sejarah telah disematkan pada dirinya sebagai bapak kaum muslimin (father of monotheism). Kiprahnya yang sangat monumental dalam mempertahankan keyakinan tauhid menjadikannya layak ditiru oleh kaum musli...

Nalar Hijau Keislaman

Dalam kacamata universal implementasi ke-berislam-an sangatlah heterogen, baik yang terkait dengan pemikiran maupun sikap. Ada yang sifatnya substansial dan urgen ( wajib ) ada juga yang sifatnya umum dan bisa ditolerir ( sunnah ) . Salah satu contohnya adalah larangan dalam Al-Quran yang menyatakan agar manusia mengindari kerusakan ( wala tufsidu fil ardhi ba’da islahiha ). Sebagaimana konsep hukum yang ada, maka setelah adanya larangan biasanya hal tersebut tidak patut dilakukan. Dalam konteks ini berarti dilarang melakukan kerusakan dan sebaliknya harus melakukan perbaikan. Siapa yang melanggarnya ia akan dikenai sanksi (dosa) dan pertanggung jawban. Adapun larangan diatas, sebenarnya bermaksud agar manusia menjaga ekosistem alam dan habitatnya, karena memang dampaknya yang   sangat luar biasa, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik dampak individu maupun dampak kolektif. Itulah mengapa dalam kaidah fiqih dinyatakan menghindari mafsadat lebih didahulukan daripada mend...

Pasca Puasa : Dari Orientasi Ilahiyyah Menuju Insaniyyah

                        Ini anjuran untuk diri saya pribadi bahwa, jangan menjadi hamba Ramadhan, yang stuck dan berhenti beribadah ketika bulan puasa telah berlalu, tetapi jadilah hamba Allah Swt, yang tetap istiqomah mendekat dan memperbarui kemanusiaan setiap waktu dalam rangka menjadi hamba yang rahmatan lil ‘alamin . Karena ngaji, sedekah dan ibadah tidak harus pergi sebab bulan Ramadhan pergi, dan Rahmat-Nya akan tetap tersebar dimana-mana.                 Ibaratnya begini, apa jadinya tatkala seorang ibu melahirkan anaknya dan kemudian ia tidak berkenan merawat si bayi, tidak menyediakan ASI atau susu formula, atau bahkan malah menelantarkannya?! Tentu tidak akan. Lalu kenapa seorang ibu mau dan mesti merawat anaknya? Jawabannya, selain memang sudah menjadi naluri kemanusiaan seorang Ibu, semua itu adalah atas kehendak dan rahmat Al...