Langsung ke konten utama

Malaikatul Maut

Mengatasi Kecanggungan sebelum bertemu Malaikatul Maut
  • Tersenyum dan sapalah orang lain
tau kan kalau senyummu pada orang lain itu sedekah. Karena senyummu membuat orang itu bahagia dengan raut wajahmu yang sumringah, hal itu membuat mereka melupakan sejenak masalahnya. Senyummu akan menularkan virus kebaikan dan menjalar pada orang sekitar, karena insyaallah dibalik senyummu yang ikhlas senantiasa ada untaian doa yang mengalir dari hati untuk orang yang kamu sayangi, untuk orang yang dekat denganmu, bahkan orang yang belum engkau mengenalnya sekalipun.
Ingat dan sadarilah senyummu itu akan melunakkan hati yang keras, mencairkan pikiran yang beku dan orang lain pun akan membalas kau punya senyum.
Kemudian sapalah orang didekatmu, ucapkan salam ketika bertemu saudara, kawan, guru dan orang Islam lainnya, karena itu bagian dari doa dan sikap baik kita untuk saudara sebangsa dan seagama. Bukankah Baginda Muhammad telah menyampaikan anjuran nya itu. Perumpamaan nya iaitu andaikan dua Muslim bertemu, lalu saling menyapa dan berjabat tangan, dosanya insyaallah akan gugur sebagaimana rontok nya dedaunan dimusim kemarau.

  • Berkawanlah dengan orang baik
Jika kamu menyadari dirimu buruk atau baik maka, tetap berkawanlah dengan orang baik. Insyaallah dengan begitu keburukanmu akan terkikis karena terinspirasi oleh kebaikan temanku. Pepatah mengatakan bahwa seberapa baik buruknya dirimu itu bisa dinilai dari siapa temanmu. So, berhat-hatilah memilih teman. Jauhi teman yang buruk, bila kehadiranmu belum mampu mengubahnya kearah kebaikan.

  • Mengasihi Makhluk Bumi
Siapapun (orang baik,jahat,pemabuk,preman dll) misalnya, tetap kasihi ia minimal dengan hatimu tanpa mengiyakan perbuatannya. Doakan agar perilakunya dihentikan Allah dan semoga cepat menemui hidayah dari Allah SWT.
Apapun (manusia,binatang, tumbuhan dll) misalnya, rawat dan lindungi ia dari kerusakan musuhnya. Karena yang pengasih akan dikasihi yang Maha Pengasih. Siapa saja yang menyayangi yang di bumi dia akan disayangi yang di langit.

  • Bersahabatlah dengan orangtua
kenapa harus menjadikannya sebagai sahabat? Karena dia orang yang paling mengerti kita, kebutuhan kita, kesenangan dan masalah-masalah yang kita alami.

  • Cintai Baginda Muhammad SAW
Bila kamu ingin dicintai maka mencintai lah, jika kamu ingin diberi maka mintalah dengan cara yang patut. Seorang menantu akan secara otomatis dicintai mertuanya manakala ia memperlakukan istrinya dengan istimewa sebagai bentuk kecintaannya pada anaknya si mertua (istrinya).
Begitupula bila kamu mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW, Allah SWT pasti akan menyayangimu dan merestuimu.

  • jangan bolong shalat
Shalat itu tiang agama, siapa yg meninggalkannya maka ia telah rela agamanya berdiri tanpa penyangga yg kuat dan dalam beberapa waktu sahaja akan roboh dan ia telah melemahkan agamanya dan siapa yg mendirikan shalat berarti ia memperkokoh agamanya. Karena shalat bisa menjadi ukuran dan dijadikan indikasi betapa orang tersebut dekat atau jauh dengan Allah SWT. Lebih kasar lagi dengan shalat dapat membedakan mana Islam dan mana kafir.
 Shalat lah sekalipun kamu masih ber maksiat, jangan hanya karena maksiatmu kau tinggalkan sesuatu yang wajib yang pada hakikatnya dapat mengikis rasa maksiatmu itu kepada Allah. Insyaallah dengan mendirikan shalat sesuai perintah dan dengan hati yang ikhlas dapat mendekatkan rasamu pada Allah dan menjauhkan rasamu pada maksiat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Intelektualisme Ibrahim a.s. Muda

  Wal tandzur nafsun maa qoddamat lighod (in). begitu bunyi petikan ayat Al-Quran yang terambil dari Q.S. 59:18. Kata ini kurang lebih memiliki makna, “perhatikan sejarahmu untuk masa depanmu”. Masa depan disini (lighod) menurut apa yang dikemukakan oleh Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin asy-Syuyuthi dalam tafsir Jalalain adalah hari kiamat, begitu pula Imam Al-Qurtubi. Bahkan ada juga yang memaknai kata “lighod” ini sesuai dengan aslinya, yakni besok. Ini menandakan bahwa penting sekali bagi kami dan kamu untuk senantiasa introspeksi diri guna menapakkan kaki untuk berjalan lurus kedepan (kalo belok jangan lupa belok) dan mawas diri serta menjadikan kejadian di waktu yang kemarin-kemarin adalah sebagai pelajaran yang sangat berharga. Ibrahim a.s. dalam realitas sejarah telah disematkan pada dirinya sebagai bapak kaum muslimin (father of monotheism). Kiprahnya yang sangat monumental dalam mempertahankan keyakinan tauhid menjadikannya layak ditiru oleh kaum musli...

Nalar Hijau Keislaman

Dalam kacamata universal implementasi ke-berislam-an sangatlah heterogen, baik yang terkait dengan pemikiran maupun sikap. Ada yang sifatnya substansial dan urgen ( wajib ) ada juga yang sifatnya umum dan bisa ditolerir ( sunnah ) . Salah satu contohnya adalah larangan dalam Al-Quran yang menyatakan agar manusia mengindari kerusakan ( wala tufsidu fil ardhi ba’da islahiha ). Sebagaimana konsep hukum yang ada, maka setelah adanya larangan biasanya hal tersebut tidak patut dilakukan. Dalam konteks ini berarti dilarang melakukan kerusakan dan sebaliknya harus melakukan perbaikan. Siapa yang melanggarnya ia akan dikenai sanksi (dosa) dan pertanggung jawban. Adapun larangan diatas, sebenarnya bermaksud agar manusia menjaga ekosistem alam dan habitatnya, karena memang dampaknya yang   sangat luar biasa, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik dampak individu maupun dampak kolektif. Itulah mengapa dalam kaidah fiqih dinyatakan menghindari mafsadat lebih didahulukan daripada mend...

Pasca Puasa : Dari Orientasi Ilahiyyah Menuju Insaniyyah

                        Ini anjuran untuk diri saya pribadi bahwa, jangan menjadi hamba Ramadhan, yang stuck dan berhenti beribadah ketika bulan puasa telah berlalu, tetapi jadilah hamba Allah Swt, yang tetap istiqomah mendekat dan memperbarui kemanusiaan setiap waktu dalam rangka menjadi hamba yang rahmatan lil ‘alamin . Karena ngaji, sedekah dan ibadah tidak harus pergi sebab bulan Ramadhan pergi, dan Rahmat-Nya akan tetap tersebar dimana-mana.                 Ibaratnya begini, apa jadinya tatkala seorang ibu melahirkan anaknya dan kemudian ia tidak berkenan merawat si bayi, tidak menyediakan ASI atau susu formula, atau bahkan malah menelantarkannya?! Tentu tidak akan. Lalu kenapa seorang ibu mau dan mesti merawat anaknya? Jawabannya, selain memang sudah menjadi naluri kemanusiaan seorang Ibu, semua itu adalah atas kehendak dan rahmat Al...